woman from chinnatown

woman from chinnatown
gambaran menjelang imlek 2012

Rabu, 11 Januari 2012

LULU dan JI-HO


1. PELARIAN

Kicauan burung belum begitu nyaring terdengar. Di luar sana mentari pun enggan untuk memperlihatkan sosoknya yang bersinar karena jadwalnya untuk tampil belum tiba. Kokok ayam jantan meredam langkah kaki kecilnya yang berbalut sepatu merah pudar. Menjelang pagi gadis kecil itu mengendap-endap di sisi pintu lalu membukanya sedikit, matanya menatap ke segala arah dengan cemas, lalu ia menghembuskan nafas panjang dan berbalik menatap di belakangnya, di sana ada teman-temannya yang tengah terlelap dengan mimpi mereka masing-masing. Tak ada rasa sedih akan meninggalkan tempat ini baginya, ia malahan bangga bila pelariannya kali ini akan berjalan lancar. “Seharusnya mereka percaya dan mau bekerja sama denganku!” gumamnya. “Mereka tidak tahu bahwa di luar sana banyak kebebasan yang bisa didapatkan, juga pengalaman-pengalaman yang mengagumkan.” tambahnya lalu kembali menatap ke luar. Dan setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, gadis kecil itu lalu berjinjit jalan dengan cepat sambil membawa tas ransel yang besarnya hampir menyamainya. Ia begitu gugup dengan perbuatannya sekarang dan takut bila ia akan tertangkap basah oleh pengawas panti asuhan seperti tempo hari, karena itulah kali ini ia harus lebih berhati-hati karena tidak mau rencananya yang selama ini ia buat menjadi sia-sia. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan perbekalan, ada beberapa barang yang sengaja ia ambil diam-diam, seperti alat kemah serta perlengkapannya. Tak lupa ia juga membawa makanan yang ia jejalkan di dalam tasnya.
      Gadis kecil itu berlari semakin kencang setelah melewati koridor panjang dengan dindingnya yang bercat putih tanpa noda. Ia mencari tangga kayu yang ia sembunyikan di semak-semak kemarin sore. Tak lama setelah ia menemukan tangga kayu itu, ia mengangkatnya dengan sulit dan meletakkannya sangat dekat dengan tembok yang dipenuhi lumut-lumut hijau. Ini satu-satunya jalan yang bisa membawanya keluar dari tempat ini, dan ia sudah tahu pasti akan sia-sia bila ia menaiki pagar utama panti asuhan. Pagar itu terbuat dari besi yang dibentuk seperti teralis yang disusun dengan rapi dan berujung runcing serupa tombak, di setiap bagiannya dihiasi bunga-bunga kecil yang kaku. Pagar itu begitu tinggi untuk anak seumurnya, apalagi dengan ujung-ujung runcingnya yang bisa membuatnya terluka.
      Tangga kayu itu tak terlihat begitu kokoh. Dua balok kayu yang panjang dengan balok-balok kecil di tengahnya siap membantunya keluar. “Kuharap ini cukup kuat untuk menahan badanku.” serunya dalam hati dengan wajah yang gugup. Kakinya bergetar tak keruan saat menaiki tangga kayu itu, ia bergerak sangat pelan sambil menatap ke kanan dan kiri. Dan saat kakinya semakin naik ke atas, tiba-tiba gadis kecil itu berteriak dengan spontan, ia hampir terjatuh dari tangga itu karena ada balok kayu yang patah dan membuatnya ketakutan setengah mati. Keringat dingin mengucur di keningnya, sekali lagi ia menatap ke segala arah, mencoba menangkap sosok pengawas panti asuhan tapi tak ada, ia khawatir bila suaranya tadi terdengar orang-orang. Buru-buru ia melempar tas ranselnya ke bawah tembok lalu menarik napas panjang-panjang, karena saat itu mau tak mau ia harus meloncat dari atas sana. Sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya, gadis kecil itu akhirnya memberanikan diri untuk loncat tepat di atas tas ransel dan menghasilkan suara gedebuk yang membuatnya kesakitan. Tapi saat itu ia tahu tak seharusnya ia memberikan waktu untuk merasakan sakit itu. Ia menyambar tas ranselnya lalu buru-buru memasangnya di punggungnya yang kecil dan berjalan menjauhi tempat itu sambil tersenyum kegirangan.
      Sekarang ia bebas, tak ada lagi orang yang akan mengasingkannya, mencibir atau memarahinya. Tak ada lagi waktu yang perlu ia habiskan untuk mendengarkan omelan-omelan pengawas panti asuhan yang selalu menyalahkan dan tidak pernah mau mendengar penjelasannya. Kini gadis kecil itu berjalan di jalan setapak yang lembab dan kedua sisinya diapit oleh pepeohonan dan semak belukar yang sangat lebat.
      Kicauan burung mulai terdengar dan seolah-olah beradu dengan suara serangga-serangga kayu yang tak kalah nyaring. Jalan lurus terus ia tapaki, sampai ia pada sebuah jalan yang menurun. Sayangnya jalan itu telah rusak karena tanah longsor. Ada papan pemberitahuan yang tertancap di depannya. Bunyinya:

JALAN RUSAK! HARAP MEMUTAR KE ARAH PANTI ASUHAN!

            Gadis kecil itu mendengus kesal, karena mau tak mau ia harus kembali melewati panti asuhan di belakang sana, satu-satunya jalan yang ia tahu hanya jalan ini. Masih kuat menempel di benaknya saat para anak panti termasuk dirinya piknik ke hutan dengan melewati jalan ini. Para donatur dan tamu-tamu pun biasanya lewat jalan ini datangnya (ia tahu karena sering mengintip dari celah-celah pagar panti asuhan). Sia-sia saja ia berusaha dengan baik mengingat jalan ini karena semuanya tak ada artinya bila ia memang harus kembali memutar ke belakang sana.
      Gadis kecil itu berbalik, menatap bangunan panti asuhan yang sangat kecil bila diamati dari tempatnya berdiri. Ia jengkel, kenapa harus rusaknya sekarang, saat aku hendak melarikan diri dari tempat itu, gumamnya. Ia melemparkan tas ranselnya dan duduk diatasnya sambil mendesah. Awan putih bergulung-gulung diatas langit yang biru terang. Sesekali angin semilir membuat atmosfir di sekelilingnya sejuk dan segar. Sekonyok-koyong suara gemerisik daun membuatnya kaget. Buru-buru ia menoleh ke arah suara itu. Ternyata suara itu hasil gesekan antara tumpukan daun-daun kering dengan seekor kadal. Warna tubuhnya mengkilat dan bila diperhatikan terus menerus akan membuat silau mata yang memandangnya. Kadal itu buru-buru lari ke semak-semak di belakang gadis itu. lega rasanya ia tahu itu hanya sekedar kadal. Lalu gadis kecil itu beranjak dan mencoba mencari kadal tadi.
      Saat ia mencoba menembus semak-semak yang dilewati kadal tadi, seruas jalan kecil yang diapit semak-semak tinggi terbuka. Seolah-olah mempersilahkannya untuk melewati jalan itu. Gadis kecil itu terdiam. Mencoba mengamati jalan itu. Dilihat-lihat jalan ini ada bukan karena hewan buas yang melintas, karena ada semak-semak yang kering dan seperti ditebas dengan benda tajam, dan itu sudah pasti murni buatan manusia. Mungkin penduduk desa di bawah sana yang membuatnya, pikirnya sambil tersenyum. Tak berpikir panjang lagi, gadis kecil itu mengambil tas ranselnya lalu mengucapkan doa pada tuhan untuk menjaganya saat ia melintasi jalan kecil yang ia sendiri tak tahu ujungnya kemana.  
      Gadis kecil itu tak tahu hanya ada dua jalan yang ada di bukit itu, satu menuju ke panti asuhan, dan satunya lagi jalan menuju desa bawah yang kebetulan telah rusak terkena longsor itu. ia memang kurang begitu mengenal tempat ini karena sebelumnya ia tinggal di daerah yang sangat jauh dari tempat ini bersama pamannya. Namun setelah pamannya meninggal, ia buru-buru dibawa ke panti asuhan yang langsung membuatnya kecewa.Tak butuh waktu yang lama baginya untuk tahu pasti apa yang sebenarnya  ia inginkan. Ia tak mau seperti teman-temannya dipanti asuhan yang berlama-lama tinggal di tempat itu dengan berharap ada orang tua dermawan yang mau mengangkatnya sebagai seorang anak.
      Tak ada ketakutan karena seorang diri yang ia rasakan, ia begitu bangga karena pelariannya sejauh ini berhasil dengan sukses, ia mengacungkan jempolnya untuk kesuksesannya ini. Matahari mulai bersinar sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi tidak untuk gadis kecil ini. Kini dengan matahari yang sama ia menjalani hari-harinya yang berbeda dan menyenangkan karena kebebasan ada di tangannya. Dengan tekad yang kuat serta rasa ingin tahunya yang besar, dan tak memperdulikan arah yang benar, gadis kecil itu berjalan semakin jauh dari panti asuhan. Dipunggungnya terpasang tas ransel besar yang berisi perlengkapannya, dan gadis kecil itu memulai petualangannya mencari mimpinya dalam bentuk yang nyata.

BERSAMBUNG ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar