1. PELARIAN
Kicauan burung belum begitu nyaring terdengar. Di luar sana mentari pun
enggan untuk memperlihatkan sosoknya yang bersinar karena jadwalnya untuk
tampil belum tiba. Kokok ayam jantan meredam langkah kaki kecilnya yang
berbalut sepatu merah pudar. Menjelang pagi gadis kecil itu mengendap-endap di
sisi pintu lalu membukanya sedikit, matanya menatap ke segala arah dengan
cemas, lalu ia menghembuskan nafas panjang dan berbalik menatap di belakangnya,
di sana ada teman-temannya yang tengah terlelap dengan mimpi mereka
masing-masing. Tak ada rasa sedih akan meninggalkan tempat ini baginya, ia
malahan bangga bila pelariannya kali ini akan berjalan lancar. “Seharusnya mereka
percaya dan mau bekerja sama denganku!” gumamnya. “Mereka tidak tahu bahwa di
luar sana banyak kebebasan yang bisa didapatkan, juga pengalaman-pengalaman
yang mengagumkan.” tambahnya lalu kembali menatap ke luar. Dan setelah
memastikan tidak ada yang melihatnya, gadis kecil itu lalu berjinjit jalan
dengan cepat sambil membawa tas ransel yang besarnya hampir menyamainya. Ia
begitu gugup dengan perbuatannya sekarang dan takut bila ia akan tertangkap
basah oleh pengawas panti asuhan seperti tempo hari, karena itulah kali ini ia
harus lebih berhati-hati karena tidak mau rencananya yang selama ini ia buat
menjadi sia-sia. Jauh-jauh hari ia sudah mempersiapkan perbekalan, ada beberapa
barang yang sengaja ia ambil diam-diam, seperti alat kemah serta
perlengkapannya. Tak lupa ia juga membawa makanan yang ia jejalkan di dalam
tasnya.
Gadis kecil itu berlari
semakin kencang setelah melewati koridor panjang dengan dindingnya yang bercat
putih tanpa noda. Ia mencari tangga kayu yang ia sembunyikan di semak-semak
kemarin sore. Tak lama setelah ia menemukan tangga kayu itu, ia mengangkatnya
dengan sulit dan meletakkannya sangat dekat dengan tembok yang dipenuhi
lumut-lumut hijau. Ini satu-satunya jalan yang bisa membawanya keluar dari
tempat ini, dan ia sudah tahu pasti akan sia-sia bila ia menaiki pagar utama
panti asuhan. Pagar itu terbuat dari besi yang dibentuk seperti teralis yang
disusun dengan rapi dan berujung runcing serupa tombak, di setiap bagiannya
dihiasi bunga-bunga kecil yang kaku. Pagar itu begitu tinggi untuk anak
seumurnya, apalagi dengan ujung-ujung runcingnya yang bisa membuatnya terluka.
Tangga kayu itu tak terlihat
begitu kokoh. Dua balok kayu yang panjang dengan balok-balok kecil di tengahnya
siap membantunya keluar. “Kuharap ini cukup kuat untuk menahan badanku.”
serunya dalam hati dengan wajah yang gugup. Kakinya bergetar tak keruan saat
menaiki tangga kayu itu, ia bergerak sangat pelan sambil menatap ke kanan dan
kiri. Dan saat kakinya semakin naik ke atas, tiba-tiba gadis kecil itu berteriak
dengan spontan, ia hampir terjatuh dari tangga itu karena ada balok kayu yang
patah dan membuatnya ketakutan setengah mati. Keringat dingin mengucur di
keningnya, sekali lagi ia menatap ke segala arah, mencoba menangkap sosok pengawas
panti asuhan tapi tak ada, ia khawatir bila suaranya tadi terdengar
orang-orang. Buru-buru ia melempar tas ranselnya ke bawah tembok lalu menarik
napas panjang-panjang, karena saat itu mau tak mau ia harus meloncat dari atas sana.
Sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya, gadis kecil itu akhirnya
memberanikan diri untuk loncat tepat di atas tas ransel dan menghasilkan suara
gedebuk yang membuatnya kesakitan. Tapi saat itu ia tahu tak seharusnya ia
memberikan waktu untuk merasakan sakit itu. Ia menyambar tas ranselnya lalu buru-buru
memasangnya di punggungnya yang kecil dan berjalan menjauhi tempat itu sambil
tersenyum kegirangan.
Sekarang ia bebas, tak ada
lagi orang yang akan mengasingkannya, mencibir atau memarahinya. Tak ada lagi
waktu yang perlu ia habiskan untuk mendengarkan omelan-omelan pengawas panti
asuhan yang selalu menyalahkan dan tidak pernah mau mendengar penjelasannya. Kini
gadis kecil itu berjalan di jalan setapak yang lembab dan kedua sisinya diapit
oleh pepeohonan dan semak belukar yang sangat lebat.
Kicauan burung mulai
terdengar dan seolah-olah beradu dengan suara serangga-serangga kayu yang tak
kalah nyaring. Jalan lurus terus ia tapaki, sampai ia pada sebuah jalan yang
menurun. Sayangnya jalan itu telah rusak karena tanah longsor. Ada papan
pemberitahuan yang tertancap di depannya. Bunyinya:
JALAN RUSAK! HARAP MEMUTAR KE ARAH PANTI
ASUHAN!
Gadis kecil itu mendengus kesal,
karena mau tak mau ia harus kembali melewati panti asuhan di belakang sana,
satu-satunya jalan yang ia tahu hanya jalan ini. Masih kuat menempel di
benaknya saat para anak panti termasuk dirinya piknik ke hutan dengan melewati
jalan ini. Para donatur dan tamu-tamu pun biasanya lewat jalan ini datangnya
(ia tahu karena sering mengintip dari celah-celah pagar panti asuhan). Sia-sia
saja ia berusaha dengan baik mengingat jalan ini karena semuanya tak ada
artinya bila ia memang harus kembali memutar ke belakang sana.
Gadis kecil itu berbalik,
menatap bangunan panti asuhan yang sangat kecil bila diamati dari tempatnya
berdiri. Ia jengkel, kenapa harus rusaknya sekarang, saat aku hendak melarikan
diri dari tempat itu, gumamnya. Ia melemparkan tas ranselnya dan duduk
diatasnya sambil mendesah. Awan putih bergulung-gulung diatas langit yang biru
terang. Sesekali angin semilir membuat atmosfir di sekelilingnya sejuk dan
segar. Sekonyok-koyong suara gemerisik daun membuatnya kaget. Buru-buru ia
menoleh ke arah suara itu. Ternyata suara itu hasil gesekan antara tumpukan
daun-daun kering dengan seekor kadal. Warna tubuhnya mengkilat dan bila
diperhatikan terus menerus akan membuat silau mata yang memandangnya. Kadal itu
buru-buru lari ke semak-semak di belakang gadis itu. lega rasanya ia tahu itu
hanya sekedar kadal. Lalu gadis kecil itu beranjak dan mencoba mencari kadal
tadi.
Saat ia mencoba menembus
semak-semak yang dilewati kadal tadi, seruas jalan kecil yang diapit
semak-semak tinggi terbuka. Seolah-olah mempersilahkannya untuk melewati jalan
itu. Gadis kecil itu terdiam. Mencoba mengamati jalan itu. Dilihat-lihat jalan
ini ada bukan karena hewan buas yang melintas, karena ada semak-semak yang
kering dan seperti ditebas dengan benda tajam, dan itu sudah pasti murni buatan
manusia. Mungkin penduduk desa di bawah sana yang membuatnya, pikirnya sambil
tersenyum. Tak berpikir panjang lagi, gadis kecil itu mengambil tas ranselnya
lalu mengucapkan doa pada tuhan untuk menjaganya saat ia melintasi jalan kecil
yang ia sendiri tak tahu ujungnya kemana.
Gadis kecil itu tak tahu
hanya ada dua jalan yang ada di bukit itu, satu menuju ke panti asuhan, dan
satunya lagi jalan menuju desa bawah yang kebetulan telah rusak terkena longsor
itu. ia memang kurang begitu mengenal tempat ini karena sebelumnya ia tinggal
di daerah yang sangat jauh dari tempat ini bersama pamannya. Namun setelah
pamannya meninggal, ia buru-buru dibawa ke panti asuhan yang langsung
membuatnya kecewa.Tak butuh waktu yang lama baginya untuk tahu pasti apa yang
sebenarnya ia inginkan. Ia tak mau seperti
teman-temannya dipanti asuhan yang berlama-lama tinggal di tempat itu dengan
berharap ada orang tua dermawan yang mau mengangkatnya sebagai seorang anak.
Tak ada ketakutan karena
seorang diri yang ia rasakan, ia begitu bangga karena pelariannya sejauh ini berhasil
dengan sukses, ia mengacungkan jempolnya untuk kesuksesannya ini. Matahari
mulai bersinar sama seperti hari-hari sebelumnya, tapi tidak untuk gadis kecil
ini. Kini dengan matahari yang sama ia menjalani hari-harinya yang berbeda dan
menyenangkan karena kebebasan ada di tangannya. Dengan tekad yang kuat serta
rasa ingin tahunya yang besar, dan tak memperdulikan arah yang benar, gadis
kecil itu berjalan semakin jauh dari panti asuhan. Dipunggungnya terpasang tas
ransel besar yang berisi perlengkapannya, dan gadis kecil itu memulai
petualangannya mencari mimpinya dalam bentuk yang nyata.
BERSAMBUNG ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar