woman from chinnatown

woman from chinnatown
gambaran menjelang imlek 2012

Rabu, 11 Januari 2012

2. LULU dan JI-HO


Pohon itu tak begitu lebat daunnya, tapi berhasil menyembunyikan sosoknya di dahannya yang kurus. Ji-Ho, monyet jenis capuchin dengan bulunya yang berwarna hitam putih dan ekor yang panjang sedang mengamati dengan matanya yang besar berwarna kuning terang. Di bawah sana ia terpukau dengan sosok-sosok yang jauh berbeda dengan dirinya. Sekelompok manusia menebas-nebas semak belukar, membuka jalan untuk semakin masuk kedalam hutan. Ia tak begitu asing akan kehadiran manusia–manusia itu, karena ini bukan kali pertamanya ia melihat mereka. Manusia-manusia itu bersama seekor monyet berbulu belang yang kini telah cukup akrab dengannya. Walau sama-sama monyet, ia dan monyet belang itu jauh berbeda. Ji-Ho terlihat sama seperti monyet-monyet sejenisnya yang hidup di hutan, sementara monyet belang itu hidup bersama manusia. Menurut Ji-Ho pribadi, temannya itu seperti diperbudak oleh manusia-manusia itu, berulang kali ia melihatnya selalu disuruh-suruh. Tapi si monyet belang tak pernah protes akan hal itu, ia bahkan bangga dengan seutas tali yang mengalungi leher kurusnya. Terlebih saat ia mengatakan bahwa tali itu adalah sebuah tanda kasih sayang pemberian seorang manusia yang memberikannya makan serta hidup bersamanya.
      Seperti biasa si monyet belang menyapa dan mengajaknya untuk dipelihara oleh manusia. Sempat terlintas di benaknya untuk menerima ajakan itu tapi ia harus memutar otak untuk berani melakukannya, lagipula ia kurang begitu suka dengan perilaku manusia-manusia itu. Ia memang mengagumi fisik makluk berkaki dua itu, tapi bila sampai diperbudak oleh mereka, tidak.
      Lagi-lagi si monyet belang diperlakukan kasar oleh seorang manusia, tak peduli temannya itu kelelahan, manusia itu memaksanya memanjat sebuah pohon untuk sekedar melihat apakah di atas sana banyak burung yang beterbangan. Ji-Ho marah melihat itu, ingin rasanya ia membawa si monyet belang dan melemparkan manusia-manusia itu keluar hutan. Tapi mau bagaimana lagi, hal itu takkan bisa ia lakukan karena ukuran tubuhnya yang kecil.
      Ia menatap sedih monyet belang, dan setelah turun dari pohon itu, buru-buru Ji-Ho menghampirinya dan membawakannya sebuah pisang yang lezat.

      “Ini makanlah.” ucapnya sambil melirik wajah monyet belang yang kelelahan.
      “Terima kasih!”

      Lalu monyet belang itu membuka kulit pisang, memakan isinya sampai habis.

      “Bagaimana sekarang – kau ingin lari dari mereka?” tanyanya menatap serius si monyet belang lalu melirik manusia-manusia itu dengan berang.
      “Tidak – sebenarnya mereka baik, hanya saja kali ini kami sedikit mendapatkan buruan.” balas si monyet belang dengan wajah tersenyum kecut.
      “Memangnya kalau buruannya sedikit, kesalahan akan ditimpakan padamu?”
      Monyet belang buru-buru menggelang tak setuju.
      “Aku tahu kenapa kau marah begitu, tapi aku lebih senang tinggal dengan mereka dibandingkan dengan para monyet-monyet di dalam sana yang kesehariannya sungguh-sungguh membosankan. Kau kan sendirian di sana, mereka juga tidak peduli padamu, kenapa tidak ikut denganku saja. Kalau kau ikut dengan kami, kau tak perlu memusingkan bagaimana mendapatkan makanan, karena ditempat mereka makanan kesukaan kita melimpah dan mereka pun tidak protes bisa kita menghabiskan segebok pisang.    
       “Ah sudahlah, walau seribu kali kau membujukku untuk menjadi peliharaan mereka, aku tetap saja tidak mau. Kau temanku dan sekali lagi kuyakinkan padamu, bahwa perlakuan mereka padamu itu sudah keterlaluan. Kenapa sih kau bisa tahan dengan mereka?” ujar Ji-Ho.

      Si monyet belang tidak membalas.
      Saat itu juga manusia yang memaksa si monyet belang tadi berjalan menghampiri mereka, buru-buru Ji-Ho memanjat sebuah pohon terdekat, lalu berhenti pada sebuah dahan. “Kalau kau sudah bosan menjadi peliharaan mereka dan ingin kembali merasakan tinggal di dalam rimba, cari saja aku. Aku bisa membantumu!” teriaknya dengan bahasa monyetnya lalu menyelinap dari dahan-dahan pepohonan. 

* * *
      Di dalam hutan, sekelompok monyet yang sama jenisnya dengan Ji-Ho sedang mempersiapkan diri untuk besok. Besok monyet-monyet seumurnya akan menghadapi upacara pendewasaan, termasuk dirinya. Ia malas harus mengikuti aturan di kelompoknya itu, tapi mau bagaimana lagi, selama ia berada di wilayah kelompok itu, ia harus menuruti aturan yang ditetapkan oleh si pemimpin. Terkadang ia membandingkan dirinya dengan si monyet belang. Di luar hutan sana, si monyet belang mungkin sedang menikmati segebok pisang seperti yang ia katakan tadi siang, sementara ia hanya menggerutu dalam hati. 
      Beberapa monyet seumurnya sedang berbincang-bincang di bawah pohon, membuat sebuah lingkaran yang berpusat pada seekor monyet yang lebih kecil dari yang lainnya. Monyet itu Teom, anak dari si pemimpin kelompok, sama seperti ayahnya, tubuhnya kecil namun mulutnya selalu bicara besar. Besar karena selalu menyimpan kata-kata sombong yang siap ia lontarkan pada siapapun – kecuali keluarganya. Monyet-monyet lain bertanya-tanya apa yang harus mereka lakukan esok hari padanya. Upacara pendewasaan memang memiliki rintangan yang tak mudah, dan itu membuat mereka cemas dan ketakutan.

      “Ayahku bilang rintangan yang akan kita hadapi besok adalah melewati sungai kadal berduri!” serunya.
      “Sungai yang dihuni buaya-buaya buas itu?” pekik seekor monyet betina.
      “Ya! Dan melewati sungai itu ada caranya!” ujar Teom sok tahu.
      “Apa?” tanya seekor monyet lain di sampingnya penasaran.
      “Kita harus memakai galah untuk lewat sana. Dan apa kau tahu bagaimana kalau kau jatuh tepat ke bawah sungai?” ujarnya sambil menatap remeh monyet-monyet lain, seolah-olah hanya dirinya yang akan berhasil menghadapi rintangan itu.
      “… Badan kita akan dicabik-cabik oleh gigi runcing mereka … dan mati! Tidak. Aku tidak mau begitu!” tukas si monyet betina tadi gusar sambil menatap temannya di samping.
      “Memangnya tidak ada rintangan yang lain selain itu?” tanya seekor monyet yang baru bergabung.
      “Ya! Rintangan itu terlalu berbahaya, bagaimana kalau kita kehilangan nyawa!” seru monyet lain lalu berlanjut dengan seruan protes para monyet padanya.
      “Mana aku tahu, hanya orang yang hebat yang bisa melakukan itu semua, dan asal kalian tahu saja, ayahku sudah berpuluh-puluh kali melatihku. Dan sebaiknya kalian mencontoh aksiku besok.” ujar Teom sombong sambil mengacak pinggang berbulunya.

      Semua monyet khawatir, beberapa ada yang meminta petunjuk pada Teom dengan wajah menjilat, beberapa yang lain ada yang berencana untuk mengundurkan diri, dan sisanya menangis histeris. Kebanyakan yang menangis adalah monyet betina.
      Saat suasana semakin riuh, sesosok monyet jantan dengan tubuhnya yang kurus dan tinggi menerobos monyet-monyet itu. Tangannya yang panjang terangkat ke atas, ia membuka mulutnya lalu berteriak meminta para monyet tenang dan mendengarkan ucapannya.

      “Semuanya tenang – yang dia katakan tak sepenuhnya benar!” ujarnya. Dia Warabi, kakak Teom. “Bagi kalian yang tidak cukup berani untuk melakukan upacara pendewasaan besok diperkenankan untuk mengundurkan diri dan bisa mengulang upacara pendewasaan tahun depan. Tidak ada paksaan untuk ini, jadi terserah kalian saja!” serunya lalu menyikut perut Teom.
      “Teom menatapnya sebal sambil mengusap-usap perutnya yang sakit.
      “Kau pergilah sana, kau hanya membuatnya menjadi masalah!” tuntut Warabi pada adiknya itu.
      Dengan terpaksa Teom naik ke sebuah pohon lalu bergelayutan menatap kakaknya di bawah sana. Saat ia hendak naik ke atas dahan yang lain barulah ia sadar ada Ji-Ho yang dari tadi duduk disana, di pohon yang sama.
      “Sejak kapan kau disini, busuk!” ujarnya angkuh.

      Ji-Ho diam menatap Teom, ia memang kurang begitu suka dengannya, terlebih ayahnya. Ia meloncat pada pohon terdekat, menatap Teom lagi. “Yang jelas lebih lama daripadamu!” ujarnya, lalu meraih dahan-dahan didepannya. Meninggalkan monyet kecil itu di dahan yang barusan ia tempati.
      Jauh dari riuh para monyet-monyet di belakang sana, Ji-Ho berhenti berayun-ayun, ia memegangi lengannya yang kelelahan, di dekatnya banyak monyet-monyet tua dengan anak-anak mereka yang masih balita. Ada yang tengah bersosialisasi sesamanya, ada yang sedang memberikan kasih sayang dengan mencari kutu-kutu yang tersembunyi di bulu-bulu lebat mereka, dan setelah menemukannya, lalu mereka memakannya. Hal itu terjadi berulang-ulang dan bergantian. Namun hal itu sangat jarang terjadi pada dirinya. Ia tak punya sanak saudara yang bisa mencarikan kutu di tubuhnya, kecuali monyet sepuh yang sudah ia anggap sebagai pengganti orang tua. Karena itu waktu-waktu luangnya lebih sering ia gunakan untuk mendengarkan cerita si monyet tua yang sering dipanggil oleh monyet-monyet lain dengan julukan “Baba”. Saat itu Baba tengah mengumbar cerita-cerita pada monyet-monyet kecil, cerita-cerita yang dilontarkannya sangat tak masuk akal  bagi banyak monyet lain. Tak jarang beberapa induk-induk monyet buru-buru membawa anak-anaknya menjauhi Baba. Takut bila si monyet tua itu membawa pengaruh buruk bagi anak-anak mereka.
      Ji-Ho tak tahu apa yang harus ia kerjakan, dari pagi sampai tengah hari telah ia habiskan untuk mengisi perutnya. Karena itulah ia menghampiri Baba yang berayun-ayun dari satu dahan ke dahan lain tak tentu arah.

      “Baba, maukah kau melanjutkan ceritamu yang ‘itu’?” cetusnya.
      “Yang ‘itu’ mana?” jawab Baba heran.
      “ Tentang saat kau dahulu menjadi manusia?”
      Baba berhenti berayun, ia menoleh ke arah monyet yang menyapanya itu.
      “Tentu, selama aku punya waktu dan mulut ini masih mampu berucap, sudah pasti aku dengan senang hati menceritakannya padamu – tapi sesekali bawalah seorang teman untuk mendengarkan ceritaku.” balasnya.
      “Baba sendiri tahu aku tidak begitu bisa bergaul, semuanya sibuk dengan saudara mereka.” terangnya pada si monyet sepuh.
      “Itu karena kau selalu bersamaku – tapi kalau tidak ada kau, aku sendiri akan kebingungan karena tak ada yang mendengarkan aku bercerita.” sahutnya kembali berayun ke sebuah dahan pohon yang besar dan gemuk. “Ikut aku, kali ini aku akan menceritakan pengalamanku itu selengkapnya padamu!” serunya sambil melintasi dahan dari pepohonan-pepohonan yang ditempati beberapa keluarga monyet lain. Diantara banyak keluarga, tak disengaja ia bertemu dengan sang pemimpin kawanan monyet.
      “Oi bocah! kau mau kemana – mendengarkan bualannya lagi?” ujar Gemrouth. Badannya kecil gemuk, dan dia sedang mencari kutu di punggung Wanggari, isterinya yang besar dan subur, lehernya dipenuhi kalung yang terbuat dari biji kenari. Tangan kirinya menggenggam botol bekas dengan posisi terbalik. Botol itu terbuat dari kaca berwarna hijau yang ia dapatkan dari kera-kera di hulu sungai yang selalu membawa barang-barang yang dibuang oleh para manusia. Dan dari kera-kera itulah, Wangari mendapatkan beberapa barang yang membuatnya selalu bersolek di manapun.
      Merekalah orang tua Teom dan Warabi. Keluarga monyet itu memang unik, saat mereka berdiri bersamaan, tubuh mereka begitu menarik perhatian untuk ditengok. Ibunya yang paling besar diantara yang lain, perangainya yang kasar juga pemarah menyabotase tempat kepala keluarga dari si ayah yang juga gemuk tapi lebih pendek dan kecil darinya. Sementara anak pertama mereka, monyet jantan dengan tubuh sekurus batang bambu bernama Warabi menjadi wali dari si induk. Sisanya Teom yang sama kecilnya dengan si ayah yang sepertinya akan tumbuh benar-benar menyerupainya.
      Ji-Ho tak membalas, dari dulu ia dan Baba selalu menjadi bahan olokannya. Kadang ia memimpikan sesuatu hal hebat yang akan terjadi padanya, dan bila saat itu tiba ia bisa menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada si pemimpin itu. Tapi entah kapan itu terjadi, ia sendiri tidak tahu. Ia hanya bisa berharap sambil menebalkan telinganya saat si pemimpin dan anaknya mulai bertingkah.
        Ia berayun-ayun mengambil ancang-ancang pada sebuah dahan lalu melepaskan tangannya ke dahan yang lain. Di belakang, suara Gemrouth sang pemimpin kawanan para monyet memakinya sambil tertawa terbahak-bahak tepat di telinga Wangari yang mencuat.

      “Aku memintamu untuk mencari kutu, bukan untuk membuat telingaku tuli, bodoh!” bentaknya pada Gemrouth.

      Buru-buru Gembrout menutup mulutnya rapat-rapat dengan wajah masam, lalu kembali ke posisinya semula, memainkan jari-jarinya yang panjang ke punggung penuh lemak istrinya sambil menoleh ke arah Ji-Ho yang mengejar Baba.

      “Kita mau kemana?” tanya Ji-Ho. Ia tidak begitu peduli ucapan-ucapan yang selalu diserukan oleh monyet-monyet lain, sama halnya dengan Baba, lagipula ia berpikir tak ada untungnya memasang telinga monyetnya hanya sekedar mendengarkan ucapan mereka yang tak penting itu.
      “Ada sebuah tempat yang cocok untuk kita berbincang, dan sebentar lagi kita akan sampai di tempat itu.” sahut Baba di depan sambil berayun penuh semangat.

      Di depan sana si monyet tua memandu arah, sementara ia mengikutinya dari belakang. Pikirannya dipenuhi rasa ingin tahu karena ia belum pernah melewati kawasan hutan ini. Pepohonan teramat sangat lebat, bahkan dahan-dahan pohon yang biasanya mudah ditemui kini sulit dijangkau karena berhimpitan dengan batang pohon yang tumbuh berdampingan, seolah-olah tak lera bila sinar matahari menembus dan jatuh di tempat itu
      Semakin jauh Baba meraih dahan demi dahan, semakin bingung hatinya. Rasanya ia ingin kembali ke tempatnya semula, namun sebelum ia protes pada monyet tua di depannya itu, Baba berhenti berayun dan mendarat pada sebuah dahan pohon besar dan berteriak padanya.

      “Kemarilah – kita sudah sampai, kau pasti suka tempat ini!” serunya pada Ji-Ho yang bergantung pada sebuah dahan kelelahan. Tempat itu memang strategis untuk mengintai hutan di seberang sana. Tepat di bawah mereka mengalir sungai yang bermuara ke bukit-bukit. Dan di mulut sungai itu ada beberapa buaya yang tak menyadari keberadaan mereka.

      Tinggal satu dahan lagi yang akan membawanya di tempat Baba, tapi dahan itu cukup jauh untuk ukuran tubuhnya, maka dari itu ia kembali mengambil ancang-ancang, berayun berulang kali dan akhirnya mendarat tepat di samping Baba yang menunggunya.

      “Aku yakin kau belum pernah kemari.” ujar Baba membusungkan dada penuh bangga
 “Lihat disana. Tempat kita berdiri ini adalah tempat tertinggi yang bisa kutemukan. Tapi dibandingkan dengan tempat kita sekarang, pohon di sana itu jauh lebih besar. Amat sangat besar.” Serunya sambil menunjukkan sebuah pohon di hutan seberang sana yang begitu mencolok dengan ukurannya yang jumbo dan dipenuhi oleh dedauan yang lebat. Pohon itu seolah bertingkat-tingkat dengan dahannya yang memiliki jarak pada setiap ruas batangnya.

      “Baba pernah kesana?” tanya Ji-Ho penasaran saat melihat pohon itu dengan takjub.
      Buru-buru monyet tua itu mengangkat bahunya yang dipenuhi bulu. “Hanya sekali – dan bila ada kesempatan kedua kalinya, aku tidak mau, karena aku tidak mau memakai nyawaku ini hanya untuk hasrat seperti masa mudaku dulu. Tapi tempat itu sangat aneh dan asing, aku sendiri kurang begitu bisa memahaminya.”
      “Memangnya disana ada apa?”
      “Disana ada banyak hal yang tidak ada di tempat ini, dan kurasa tak banyak yang berani berkunjung ke sana.” balas Baba sambil memalingkan wajahnya dari pohon itu seolah-olah ingatan masa mudanya kembali terkuak dan itu membuatnya terganggu.
      Ji-Ho membisu menatap si monyet tua lalu kembali menatap pohon raksasa itu penuh tanya.
      “Tapi disanalah aku menemukannya!” Baba mulai kembali berbicara setelah cukup lama membisu.
      “Apa? apa yang Baba temukan disana, Harta karun?” tanya Ji-Ho menuntut penjelasan.
      “Harta Karun? Bah kau kira kita para monyet tertarik dengan barang-barang seperti itu. Barang yang selalu diimpikan oleh para makluk berkaki dua dan menjamur dimana-mana itu? Bukan. Bukan harta karun yang aku temukan disana, tapi sesuatu yang ganjil dan seolah-olah berasal dari dunia yang entah darimana asalnya!”

      Ji-Ho mengangkat kepalanya, mencoba menerka-nerka apa yang dimaksud oleh Baba, tapi ia tak berhasil menemukannya.

      “Lalu apa?” tanyanya.
      “Disana aku berubah wujud menjadi manusia!” jawab Baba memelototkan bola matanya.
      Ji-Ho mengkerutkan keningnya tak percaya. “Yang benar?” ujarnya
      “Ya – tentu saja, kalau kau tak percaya, kau bisa mencobanya sendiri. Tapi sebaiknya kau hati-hati karena tempat itu seperti candu yang bisa menahanmu untuk tinggal selamanya disana.”
      “Kalau begitu kenapa Baba bisa keluar dari sana?”
      Baba mendesah panjang sambil menggaruk-garuk bulu tipis di pipinya yang alot. “Ceritanya panjang, panjaaang sekali. Dan kurasa kau tidak sepenuhnya percaya padaku. Bukan begitu?”
      “Ya – memang, tapi lain halnya dengan cerita Baba yang ini. Kurasa rasa penasaran cukup untuk membuatmu melanjutkan ceritanya padaku.”
      “Ya ya ya – kau satu-satunya sahabat kecilku yang selalu mendengarkan ceritaku, dan sekarang aku akan menceritakannya padamu.” ujar Baba. Ia berdeham, menguap, menarik nafas lalu mulai membuka mulutnya yang lebar. “Saat aku muda, kira-kira seumurmu,  aku banyak menghabiskan waktu untuk menjelajahi tempat tinggal kita ini, dan sampai pada suatu hari yang sangat panas dan membosankan. Hampir semua wilayah di hutan ini sudah pernah kukunjungi, tapi sebaliknya dengan wilayah hutan bagian sana. Bukan hanya karena pohon raksasa itu yang membuatku tertarik untuk menjelajahinya – apa yang ada di hutan sana juga membuatku ingin mencari tahu. Tapi kau sendiri tahu untuk mencapai daerah sana, ada sebuah sungai yang didiami oleh para buaya yang selalu kelaparan. Dan aku tentu tidak bodoh untuk melewati sungai mengerikan itu, aku menunggu saat kawanan burung bangau menepi untuk melepas dahaga. Dan saat itulah aku menyelinap diam-diam dan akhirnya aku berhasil melewati sungai itu. Tidak sampai di situ saja rintangannya, di sana, di hutan seberang sungai itu, ada banyak makhluk-makhluk yang belum pernah kulihat dalam hidupku. Walau pada awalnya aku khawatir bila mereka akan mengangguku, tapi ternyata tidak. Bahkan dengan ramah tamah mereka mengundangku dan mengajakku berbincang-bincang. Dari merekalah aku mengetahui bahwa ada sebuah tempat di dalam hutan itu yang bisa membuat impian kita menjadi kenyataan. Aku tidak langsung percaya begitu saja pada mereka. Tapi karena ada satu dari mereka yang bersedia menunjukkan arah ke tempat itu. Penasaran, akupun setuju dengannya dan sesampainya aku di sana, aku begitu terpukau pada sebuah pohon raksasa yang sekarang di sana itu.” seru Baba sambil mengangkat tangannya yang bengkok. Pohon itu sangat besar – dan di batangnya ada sebuah lubang yang menyeruakkan wangi bunga yang semerbak. Dari lubang itu aku masuk, dan tebak apa yang ada di dalam sana?” tanya Baba.

      Ji-Ho menggeleng tak tahu.

      “Ahh, kau ini. menebak begitu saja tak mampu!” Baba mendesah, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ji-Ho yang lebih kecil. “Di dalam sana adalah tempat tinggal para peri, apa kau tau peri?”
      “Peri? Maksudmu kunang-kunang?” balas Ji-Ho yakin dengan jawabannya.
      “Bukan – kunang-kunang hanyalah makhluk payah dan tak bisa di bandingkan dengan pesona yang dimiliki oleh mereka bangsa peri. Peri memiliki tubuh yang menyerupai manusia. Hanya saja mereka seukuran capung, dan mereka juga memiliki warna sayap yang berbeda-beda dan setahuku tak ada satupun yang memiliki warna sayap yang sama. Di pohon itu mereka hidup bersama para semut dan saling membantu satu sama lain. Saat aku masuk di dalam pohon itu, aku disambut dengan meriah. Mereka menyuguhkan makanan yang tak pernah kulihat sebelumnya, dan kurasa mereka yang di kawanan kitapun tak pernah melihatnya!” Baba kembali menarik nafas yang panjang. “Sekarang aku kurang begitu mengingatnya. Satu yang kuingat dari makanan itu adalah bentuknya yang berupa butiran-butiran berwarna emas dan perak yang empuk. Rasanya lebih enak dibandingkan pisang yang kita makan, dan saat kau menggigitnya kau akan merasakan kesegaran yang luar biasa, kau pun menjadi wangi dan dari dalam tubuh terpancar energi yang luar biasa. Di sana aku tak tahu telah menghabiskan waktu berapa lama, dan saat aku hendak pergi dari tempat itu mereka tidak mengijinkannya dan malah menyuguhkan makanan lebih banyak lagi. Akupun menunda kepulanganku sampai mereka memperlihatkan sesuatu benda polos lebar yang terpasang di sekeliling dinding pohon, benda itu memantulkan bayangan kita. Aku diberitahu bahwa benda itu bisa mengubah sosok siapapun menjadi apapun sesuai pikiran kita. Mereka memberikan intruksi padaku, akupun mengikutinya. Mereka menyuruhku berdiri di depan benda itu sambil mengucapkan sosok yang aku inginkan tiga kali dalam hati, aku memejamkan mataku sambil menyentuh benda itu. Dan saat aku membuka mataku, aku melihat sosok manusia di benda itu, akhirnya aku sadari sosok itu adalah aku, aku kegirangan dan akupun ingin memperlihatkannya pada monyet-monyet lain. Sayangnya saat aku berlari keluar dari pohon itu, sosok manusiaku tiba-tiba kembali menjadi monyet. Aku bingung dan saat aku hendak kembali masuk ke dalam pohon, aku sama sekali tak menemukan lubang yang membawaku masuk ke dalam. Berulang kali aku mencoba mencari-cari lubang itu tapi hasilnya nihil, pohon itu tak ada bedanya dengan pohon-pohon lain, hanya ukurannya yang besar. 

       “Memangnya para peri itu tidak melarangmu untuk keluar?” tanya Ji-Ho.
      “Aku keluar saat mereka sedang terlelap.” balas Baba merunduk. “Sampai sekarang aku begitu menyesal.”

      Ji-Ho terdiam, benaknya sedang mencerna cerita yang baru di dengarnya itu.
      Di ujung bukit sana, matahari mulai bersembunyi di cakrawala, menyisakan sinar-sinarnya yang menembus kanopi hutan dan membuat sungai di bawah pohon yang mereka tempati berkilau keemasan. Sungai itu mengingatkannya pada upacara pendewasaan, buru-buru Ji-Ho memalingkan wajah dari sana. Dari arah berlawanan muncul bulan sabit walaupun senja masih tergantung di atas hutan rimba.
      Seekor burung hantu hinggap di sebuah dahan kurus di atas mereka, Baba menatap si burung hantu itu, lalu mengajak Ji-Ho kembali ke tempat mereka.
      Beberapa makhluk malam mulai memperlihatkan keberadaan mereka, dan kedua monyet itu pun pulang sambil berayun-ayun dari dahan ke dahan.

BERSAMBUNG ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar